Senin, 23 September 2013




Mahasiswa dalam menempuh belajarnya di kampus tercinta memerlukan beragam keperluan. Bagi sebagian mahasiswa itu mudah untuk dipenuhi tapi bagi sebagian mahasiswa lainnya sangat sulit untuk terpenuhi. Solusi untuk mahasiswa yang sulit, yaitu dengan memanfaatkan biaya bantuan pendidikan atau yang lazim disebut beasiswa.

Beasiswa pun banyak bermunculan untuk membantu meringankan beban mahasiswa tersebut. Namun, banyak yang tak tepat sasaran. Kenapa tidak tepat sasaran? Yup, karena tidak semua mahasiswa kurang mampu yang ikut tapi mahasiswa mampu pun ikut daftar menjadi penerima beasiswa. Sebagai contoh, beasiswa yang masih hangat – beasiswa dari BAZIS DKI Jakarta. Saya pun ikut mendaftar untuk mendapatkan beasiswanya :)


Apa yang menjadi sorotan saya selama proses seleksi beasiswa Bazis DKI Jakarta? Saya melihat hampir semua mahasiswa yang mengajukan permohonan beasiswa menggunakan smartphone bahkan ada yang membawa laptop !. Jika beasiswa ini ditujukan untuk kalangan yang tidak mampu saja, apakah pantas mereka yang mampu menerimanya? Selain itu, masih banyak kejanggalan dalam proses beasiswa, bukan hanya beasiswa baziz saja, tapi beasiswa lain pun demikian. Calon penerima dibantu ‘orang dalam’ untuk memuluskan langkahnya menerima beasiswa.


Memang, beasiswa terbagi menjadi dua kategori, yaitu beasiswa untuk kalangan tidak mampu dan beasiswa untuk kalangan yang berprestasi. Beasiswa prestasi boleh saja, si penerima berasal dari lingkungan borjuis lain halnya beasiswa tak mampu.

Demikianlah beberapa hal yang perlu kita bersama garis bawahi. Beasiswa yang tadinya bertujuan untuk meringankan beban mahasiswa tidak mampu, tapi beralih fungsi menjadi sumber foya-foya bagi kalangan mampu. Semoga kita dapat memaknai arti beasiswa dengan sebenarnya dan instansi pemberi beasiswa dapat menyalurkan ke pihak yang tepat. Aaminn..

Sumber : http://fajarah.wordpress.com/2013/07/16/beasiswa-yang-tidak-tepat-sasaran/